Kamis, 11 Juni 2020

Konsumsi Pangan Beras di Kota Palembang


 Konsumsi Pangan Beras di Kota Palembang

Oleh: 

Imam Asngari*, Suhel, Harunurrasyid, 
Andi Nurul Astria Arif, dan Ersa Ayu Tiara Salim

Abstrak: Penelitian ini untuk mengkaji pola konsumsi pangan beras rumah tangga di Kota Palembang. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh dari survei kepada 90 rumah tangga. Analisis digunakan menggunakan metode regresi. Hasil penelitian ini, menunjukkan bahwa proporsi konsumsi pangan rumah tangga petani terbesar di dominasi oleh konsumsi beras pada kualitas III dengan indikator beras tidak pulen, tidak wangi, bentuk fisik beras relatif bersih dengan kisaran harga Rp10.000-Rp12.000 per kg. Konsumsi pangan rumah tangga petani di pengaruhi oleh endapatan rumah tangga. Nilai marginal propesity to consume sangat kecil, yang menunjukkan bahwa dominasi beras dalam struktur konsumsi rumah tangga semakin menurun.
____________
*Ketua Peneliti

Pendahuluan
Undang Nomor 18 tahun 2012 tentang pangan menyatakan bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian dari hak asasi manusia, negara juga berkewajiban mewujudkan ketersediaan, keterjangkauan,dan pemenuhan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang, baik pada tingkat nasional maupun daerah hingga perorangan secara merata di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia sepanjang waktu dengan memanfaatkan sumber daya, kelembagaan, dan budaya lokal.
Berdasarkan tingkat kesejahteraan masyarakat Indonesia yang diukur dengan pangsa pengeluaran pangan, baik di perkotaan maupun di pedesaan semakin membaik. Terdapat perubahan pola pengeluaran masyarakat dari dominan pada kelompok padi-padian ke kelompok makanan dan minuman jadi. Sementara pola pengeluaran untuk kelompok pangan yang lain relatif sama dari tahun ke tahun (Kementrian Perdagangan, 2013).
Pertumbuhan pengeluaran untuk konsumsi makanan rumah tangga di Kota Palembang tahun 2016-2018, . untuk konsumsi makanan tertinggi di dominasi oleh lima kelompok makanan seperti sayur-sayuran, makanan dan minuman jadi, tembakau dan sirih, daging, dan bumbu-bumbuhan (BPS, 2019).  Perkembangan pengeluaran untuk konsumsi makanan mengalami perubahan selama periode 2016-2018, perubahan tersebut dapat disebabkan oleh meningkatnya harga pangan dan pendapatan rumah tangga, serta pola konsumsi rumah tangga saat ini yang mengalami perubahan. Fenomena yang menarik menunjukkan bahwa proporsi konsumsi untuk padi-padian saat ini semakin kecil daripada konsumsi kelompok makanan dan minuman jadi, dan kelompok tembakau dan sirih, ini mengindikasikan bahwa rumah tangga telah mengurangi permintaan terhadap konsumsi pangan tersebut dengan konsumsi makanan dan minuman jadi yang lebih praktis.

Metode Kajian

Penelitian dilakukan di tiga kecamatan yaitu Kecamatan Ilir Barat I, Seberang Ulu I, dan Kemuning. Responden rumah tangga sebanyak 90 KK meliputi kelompok kaya, menengah, dan miskin. Metode analisis yang digunakan  adalah regresi untuk mengetahui fungsi knsumsi beras dan faktor penentu konsumsi beras maysarakat di Kota Palembang.

Hasil kajian

Pola pengeluaran rumah tangga untuk konsumsi pangan beras di Kota palembang berada dikisaran 27-40 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pangan memiliki peranan yang semakin menurun karena tersedianya konsumsi pangan non beras bagi rumah tangga di perkotaan. Konsumsi pangan non beras meliputi 58-72 persen. 
 
Tabel 1. Pengeluaran Rumah Tangga Untuk Pangan Beras dan Non Beras

Keterangan
Kec. Ilir Barat I
Kec. Kemuning
Kec. Seberang Ulu I
Nilai (Rp)
Persentase (%)
Nilai (Rp)
Persentase (%)
Nilai (Rp)
Persentase (%)
Konsumsi Beras
18963450
27.63
15547500
41.02
14941500
27.18
Konsumsi Non Beras
49668750
72.37
22351250
58.98
40039000
72.82
Total
68632200
100
37898750
100
54980500
100
                      Sumber: Data Primer (diolah), 2019



Konsumsi beras masyarakat Kota Palembang cenderung lebih memilih mengonsumsi beras dengan kualitas I dan II yang memiliki karakteristik beras pulen, bentuk fisik berasnya utuh dan bersih, serta wangi walaupun harganya relatif lebih mahal dari pada beras dengan kualitas III dan IV.  Konsumsi  beras menurut kualitas di Kecamatan Ilir Barat I sebagian besar responden mengonsumsi beras dengan kualitas I dengan harga lebih dari Rp 12.000. Sedangkan Kecamatan Kemuning dan Kecamatan Seberang Ulu cenderung mengonsumsi beras pada kualitas II yang memiliki kisaran harga sebesar Rp 11.000 hingga Rp 12.000.




Tabel 2.  Distribusi Konsumsi Beras Menurut Kualitas Beras
di Kota  Palembang

Kualitas
Kec. Ilir Barat I
Kec. Kemuning
Kec. Seberang Ulu I
Jml KK
Kg
Nilai (Rp)
Jml KK
Kg
Nilai (Rp)
Jml KK
Kg
Nilai (Rp)
I
16
879
11.637.000
2
105
1.605.000
3
144
1.933.500
II
13
630
7.027.200
24
1063.5
12.577.500
23
1033.5
11.868.000
III
1
31.5
299.250
4
160.5
1.250.000
4
114
1.140.000
IV
0
0
0
0
0
0
0
0
0
Jumlah
30
1540.5
18.963.450
30
1329
15.547.500
30
1292
14.941.500
                        Sumber: Data Primer (diolah), 2019
Keterangan:
Kualitas   I  = Beras pulen, wangi, bentuk fisik berasnya utuh dan bersih, harganya mahal (> Rp12R/kg)
Kualitas  II  = Beras pulen, kurang wangi, bentuk fisik berasnya bersih, dan harganya relatif mahal (Rp11R-12R/kg)
Kualitas  III = Beras tidak pulen, tidak wangi, bentuki fisik berasnya relatif bersih. harganya sedang (Rp9R-10R/kg)
Kualitas  IV = Beras tidak pulen, tidak wangi, fisik berasnya tidak bersih dan harganya murah  (≤Rp8R/kg)


Konsumsi beras di Kecamatan Ilir Barat I, Kecamatan Plaju dan Kecamatan Kemuning secara signifikan dipengaruhi oleh tingkat pendapatan. Elastisitas pendapatan positif sebesar 0.66 di Kecamatan Ilir Barat I, Kecamatan Plaju dan 0.44 di Kecamatan Kemuning. Beras kategorinya adalah barang normal.
Kedua model konsumsi sudah memenuhi asumsi klasik, baik untuk Kecamatan Ilir Barat I, Kecamatan Plaju dan Kecamatan Kemuning terbebas dari masalah autokorelasi. heterokedastisitas dan multikolonieritas. Pengaruh pendapatan postif dan nyata secara statistik baik di Ilir Barat I, Kecamatan Plaju maupun Kecamatan Kemuning. Hal ini wajar, karena pendapatan secara teori mempengaruhi tingkat konsumsi termasuk konsumsi pangan beras.

Model konsumsi beras Keynesian di Kecamatan Ilir Barat I memiliki autonomous consumption sebesar 27.814 yang berarti jika pendapatan nol, maka konsumsi beras sebesar Rp 27.814. Nilai MPC Kecamatan Ilir Barat I sebesar 0.0007145 yang berarti setiap kenaikan pendapatan sebesar Rp 100.000 maka konsumsi beras per bulan akan naik sebesar Rp 292.833. Nilai koefisien R2 sebesar 0.107321 berarti variasi dalam variabel independen mampu dijelaskan oleh variabel independen.

 Tabel 3. Fungsi Konsumsi Beras di Kota Palembang



Kecamatan Ilir Barat I
Kecamatan Kemuning
Kecamatan Plaju
Dependen: Konsumsi Beras
(QDB)
Koe-fisien
t-hitung
Dependen: Konsumsi Beras
 (QDB)
Koe-fisien
t-hitung
Dependen: Konsumsi Beras (QDB)
Koe-fisien
t-hitung
C
278147.5
12.18***
C
269743.8
10.30***
C
180454.6
5,78***
Yd
0.000745
1.83***
Yd
0.001106
0,28***
Yd
0,006410
1,62**
R2   = 0.107321
F    = 3.366241  Prob F = 0.077192
DW = 2,00
R2   = 0.002938
F    = 0,082497   Prob F = 0.776057
DW = 2,23
R2   = 0.085856
F    = 2.629746   Prob F = 0.116087
DW = 1,37
Sumber: Diolah Peneliti, 2019
Keterangan: **** = signifikan dalam α = 1%. 
              ** = signifikan dalam α = 5%.

Model konsumsi beras Keynesian di Kecamatan Plaju memiliki autonomous consumption sebesar 18.045 yang berarti jika pendapatan nol, maka konsumsi beras sebesar Rp 18.045. Nilai MPC Kecamatan Plaju sebesar 0,006410 yang berarti setiap kenaikan pendapatan rata-rata sebesar Rp 100.000 maka konsumsi beras per bulan akan naik sebesar Rp 6.410. Nilai koefisien R2 sebesar 0,085856 berarti variasi dalam variabel independen mampu dijelaskan oleh variabel dependen.
Model konsumsi beras Keynesian di Kecamatan Kemuning memiliki autonomous consumption sebesar 26.974 yang berarti jika pendapatan nol, maka konsumsi beras sebesar Rp 26.974. Nilai MPC Kecamatan Kemuning sebesar 0,001106 yang berarti setiap kenaikan pendapatan rata-rata sebesar Rp 100.000 maka konsumsi beras per bulan akan naik sebesar Rp 1.106.  Nilai koefisien R2 sebesar 0,002938 berarti variasi dalam variabel independen mampu dijelaskan oleh variabel dependen.


Kesimpulan 

Konsumsi beras masyarakat Kota Palembang cenderung lebih memilih mengonsumsi beras dengan kualitas I dan II yang memiliki karakteristik beras pulen, bentuk fisik berasnya utuh dan bersih, serta wangi walaupun harganya relatif lebih mahal dari pada beras dengan kualitas III dan IV.  Konsumsi  beras menurut kualitas di Kecamatan Ilir Barat I sebagian besar responden mengonsumsi beras dengan kualitas I dengan harga lebih dari Rp 12.000. Sedangkan Kecamatan Kemuning dan Kecamatan Seberang Ulu cenderung mengonsumsi beras pada kualitas II yang memiliki kisaran harga sebesar Rp 11.000 hingga Rp 12.000. 


Referensi

Asngari, Imam, Suhel, dan Harunurrasyid, 2019. Konsumsi Pangan Beras dan Faktor Penentu PermintaanPangan Beras Masyarakat Perkotaan Sumatera Selatan, Laporan Penelitian Kompetitif, Universitas Sriwijaya.

Badan Pusat Statistik. (2019). Kota Palembang dalam Angka 2018. Kota Palembang.

Kementrian Perdagangan (2013). Analisa Dinamika Konsumsi Pangan Masyarakat Indonesia, Pusat Kebijakan Perdagangan Dalam Negeri, Badan Pengkajian dan pengembangan Kebijakan Perdagangan, Kementrian Perdagangan, Jakarta.

Kementrian Pertanian. (2016). Laporan Tahunan Badan Ketahanan Pangan 2015,  Kementerian Pertanian, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar